KISAH DO'A DO'A YANG DIKABULKAN Bag.29





Bismillahirrohmanirrohim.
Alhamdulillah ada tempat untuk bercerita tanpa bermaksud Riya.
Hari itu saya mengantar suami berobat ke pinggiran kota Karawang untuk dipijat tulang belakang. Suami saya terkena penyakit HNP, kalau istilah umumnya syaraf kejepit. Dia merasakan sakit saat tidur, duduk,atau bangun dari duduk, sehingga jalan pun tidak bisa sempurna seperti orang normal.
Ikhtiar dan ikhtiar coba kami jalani, sesudah dari dokter kami coba alternatif pijit ini.

Singkat cerita, kami pergi memakai kendaraan umum. Dari rumah, kami pakai ojeg, karena jauh ke jalan raya. Selepas naik ojeg kami naik angkot.Lumayan jauh jaraknya naik angkot, termasuk ngetem kurang lebih satu jam. Ditengah perjalanan, masuklah seorang nenek tua renta dengan jalan bungkuk memakai kebaya jadul. Beliau duduk tepat depan saya. Penumpang saat itu sekitar 5 orang, termasuk saya dan sang nenek. Saya perhatikan baik2 itu nenek, kemudian dia menatap saya.

saya hanya tersenyum simpul. Lalu tiba2 nenek tersebut menengadahkan tangan kanannya yang berisi uang logam gopek. Saya kaget dan bertanya, kenapa Nek?? mau diapain uang nya?? nenek tersebut diam dan terus kasih tangannya itu seolah minta saya untuk perhatikan uang yang ditangannya. Saya akhirya mengeluarkan uang 50.000, dan saya kasih ke nenek nya.
Dia membungkukkan badan dan mengepal tangannya mungkin sebagai ucapan terima kasih.

Mataku hanya berkaca menahan tangis. Aku hanya bilang. "Iya Nek, semoga nenek sehat dan barokah ya Nek, maaf tidak bisa banyak. " Dalam hati berdo'a "Ya Allah semoga ini penggugur dosa suami hamba, sembuhlan dia Ya Allah, berilah kami kemudahan menjalani ujian-Mu".

Tak terasa kami sampai di tujuan, nenek itu masih di angkot, saya pamit dan nitipkan neneknya ke mang sopir dan ongkosnya pun saya bayarkan. Untuk sampai lokasi pijat, ternyata kami sambung naik becak, sedih rasanya gandeng suami yang tetatih-tatih.
Keesokan harinya tanpa kami percaya, ada seorang teman suami yang menelpon sudah mentransfer uang 10 juta hasil penjualan mobil, dimana saat beli mobil itu suami saya yang jadi marketing nya. Masya Allah, dengan kontan Allah kasih kami rejeki dan dari uang tersebut kami jadikan tambahan DP mobil yang memang masih kurang 10 juta lagi. Kami ingin beli mobil karena butuh untuk wara wiri anter suami berobat. Singkat cerita kami beli mobil tersebut, pakai kurang lebih 2 tahun, namun sudah kami jual lagi tepat sebulan lalu karena ternyata kami harus lebih ekstra mencari uang agar cicilan tidak telat. Hal lain lagi yang menjadi beban di hati dan fikiran kami karena nggak bisa kasih uang cukup untuk orang tua, padahal adik ipar saya seorang anak yatim. umurnya 4 tahunan yang pastinya masih perlu banyak biaya untuk sekolah, jajan, kebutuhan sehari-hari,dll.

Dan tentu saja jadi kewajiban kakaknya lah untuk kebutuhan hidup nya (suami saya anak pertama). Apalagi setelah kami baca postingan2 mas Saptu tentang riba yang puncaknya saya beli buku Kembali ke Titik Nol. Saat itu saya makin resah dan gelisah.butuh waktu dan tekad yang bulat memang untuk menjualnya, karena kami beli bukan untuk gengsi, tapi kebutuhan.

Namun saya yakin Allah lah sebaik-baik penolong jika kita kembali ke jalan-Nya.
Dari hasil penjualan mobil itu saya pakai untuk nutupin cicilan mobil nya, rumah dan motor. Alhamdulillah hidup kami tenang, nikmatin gaji seadanya, mau beli apapun merasa nggak bakal kurang, kasih ke orang tua dan mertua dijamin untuk sebulan. Dari listrik, sabun dan kebutuhan hidup. bahkan kami berikan pos khusus buat adik ipar saya. Alhamdulillah.

Inilah kisah do'a do'a yang dikabulkan.





Doa Anak Yatim, dua kali menyelamatkan nyawa anakku RAISA {Mytrue Story}

           Pada saat hamil anak pertama, memasuki minggu ke sembilan dokter kandungan mendiagnosa jika janin yang saya kandung tidak berkembang karena disebabkan oleh virus dan harus segera dikuret. Pulang dari rumah sakit saya hanya bisa menangis, sedih rasanya harus kehilangan calon anak yang berada dalam kandungan.

Tengah malam, saya dan suami sholat tahajud dan memohon agar janin dalam perut saya dapat tumbuh dengan sehat. Menjelang shubuh, saya bermimpi didatangi anak yatim yang sudah lama tidak saya kunjungi dan santuni. Keesokan harinya, saya pun mendatanginya dan mengelus kepalanya sambil minta di doakan agar janin dalam kandungan saya bisa tumbuh sehat dan selamat hingga melahirkan.

Seminggu kemudian saat kami kembali ke dokter kandungan, keajaiban terjadi. Janin yang sebelumnya tidak berkembang dan harus dikuret. Tiba-tiba saat di check melalui USG janin tersebut berkembang dan saya pun bisa mendengar detak jantungnya. Alhamdulillah, janin tersebut tumbuh sehat dan saya dapat melahirkannya dengan kondisi selamat dan sehat.
Dan anak itu saya beri nama Raisa Balqis Azzahra.

Pada saat kelahiran anak kedua, Kakak Raisa saya titipkan di rumah orang tua. Selama dirumah orang tua, Raisa tidur hanya 2 jam sehari dan susah makan. Setelah saya pulang dari RS, saya melihat ada perbedaan pada Raisa. Bibir Raisa selalu basah dan giginya sering mengeluarkan darah. Beberapa hari kemudian, darah yang keluar dari giginya makin banyak. Karena saya sedang sibuk mengurus si kecil yang masih berumur 2 minggu. Akhirnya saya meminta kepada suami dan ibu saya untuk membawa Raisa ke dokter gigi anak . Ternyata pas tiba di RS Haji, dokter gigi anak sedang tidak praktek dan suami pun memutuskan untuk berobat ke dokter anak. Kebetulan waktu itu dokter anak yang praktek di RS Haji adalah Prof. Bambang (dokter langganan Raisa). Setelah di check, dokter menyarankan untuk pemeriksaan darah.

Saat pemeriksaan darah, petugas Lab memberitahukan hasilnya satu jam lagi baru bisa diambil untuk di analisa oleh dokter Anak. Tiba-tiba kurang dari satu jam ibu saya dipanggil oleh petugas lab, dia terlihat sangat gugup dan khawatir. Si petugas lab meminta ibu saya untuk segera kembali ke Prof Bambang dengan membawa Raisa untuk segera diperiksa ulang karena Trombosit anak saya hanya 6.000/mm3. Si petugas menjelaskan ke ibu saya, Normalnya trombosit berada di kisaran 150.000 – 450.000/mm3. Pendarahan spontan terjadi bila jumlah trombosit < 50.000/mm3, dan bila jumlah trombosit < 10.000/mm3 akan berisiko terjadi perdarahan intracranial (komplikasi serius). Si petugas merasa tidak percaya jika anak saya trombositnya bisa 6.000/mm3, biasanya jika trombosit turun sampai 6.000/mm3 maka si anak bisa pingsan.

Ibu saya pun panik dan langsung menuju ke ruangan praktek Prof Bambang. Berdasarkan hasil pemeriksaan darah dan analysa, anak saya mengidap penyakit ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura) yaitu penyakit autoimun yang menyerang keping darah (platelet) sehingga jumlah sel darah merah (trombosit) berkurang.
Ibu saya, langsung menelpon saya kalau Raisa kena ITP dan harus dirawat malam itu juga karena kondisinya sudah kronis. Trombositnya sangat rendah dan bisa menimbulkan pendarahan dalam dan komplikasi serius. Malam hari, gejala ITP mulai menyerang anak saya, timbul bintik2 merah dan ruam kebiruan pada sekujur tubuhnya dan BAB nya pun mengeluarkan darah. Sepanjang malam, Raisa tidur dalam kondisi mulut penuh darah, karena darah terus keluar dari dalam mulutnya.

Malam itu juga dokter memutuskan untuk melakukan tranfusi untuk menaikkan kadar trombositnya. Namun transfusi baru bisa dilakukan jam 2 malam karena menunggu persediaan trombosit. Mendapat kabar seperti itu, dirumah saya hanya bisa menangis dan pikiran-pikiran negatif mulai datang menghampiri “bagaimana jika anak saya tidak selamat dan dipanggil Tuhan, baru saja melahirkan anak kedua tapi harus kehilangan anak pertama”
Sepanjang malam saya terus menangis, membayangkan keadaan Raisa. Saya browsing sebanyak mungkin artikel tentang ITP dan semakin saya tahu banyak tentang ITP. Saya semakin khawatir dengan keadaan Raisa dan membuat mental saya makin down dan sedih.

Setelah ditransfusi kondisi trombosit Raisa masih belum ada peningkatan. Saya terus memantau keadaan anak saya melalui telpon dan suami pun cuti selama seminggu untuk menjaganya. Selama menunggu kabar tentang kenaikan trombosit Raisa, dirumah saya hanya bisa menangis sepanjang hari hingga mata saya bengkak. Perasaan tidak tenang menunggu hasil, ketakutan ditinggal mati oleh anak saya Raisa dan kenangan manis bersamanya silih berganti hadir di pikiran saya seperti roll film yang diputar berulang-ulang. Yang paling membuat saya merana, adalah saat anak saya sedang terbaring sakit dan berjuang untuk tetap hidup namun, sebagai ibu saya tidak bisa menemaninya karena kondisi fisik saya yang belum pulih pasca operasi cesar dan harus menemani si kecil yang masih berumur 2 minggu.

Dalam keadaan sedih, galau dan putus asa. Saya meminta tolong ke ibu saya untuk bersedekah ke pembangunan masjid dan yayasan yatim piatu. Saya minta ke pihak yayasan agar anak2 yatim piatu tersebut dikumpulkan setelah sholat maghrib dan minta agar mereka secara bersama2 mendoakan agar trombosit Raisa cepat naik dan segera sembuh. Dan anak2 yatim itu secara bersama2, terus mendo’akan anak saya disetiap selesai sholat berjamaah.

Setelah minta didoakan oleh anak2 yatim tersebut, keajaiban pun terjadi. Trombosit Raisa berangsur-angsur naik dengan pesat. Pendarahan di gusinya mulai berhenti, mulutnya yang selalu mengeluarkan darah pun mulai mengering dan ruam kebiruan disekujur tubuhnya perlahan2 mulai menghilang. Kondisi Raisa pun berangsur2 mulai membaik. Ajaib memang, doa dari anak2 yatim tersebut membuat proses kesembuhan anak saya berjalan cepat. Masa kritis selama 3 hari yang menegangkan akhirnya bisa dilalui dengan baik dan kondisi pun mulai stabil. Trombositnya yang awalnya hanya 6 ribu selama 2 hari langsung melonjak naik dan anak saya diperbolehkan pulang setelah seminggu dirawat di Rumah Sakit Haji.

Itulah kekuatan Doa anak Yatim yang dua kali menyelamatkan nyawa anakku Raisa.
Tidak ada yang dapat menolak takdir (ketentuan Allah) selain do’a. Ketika tidak ada satupun jalan keluar, doa mengubah segalanya. Ketika kita sudah berusaha secara maksimal dengan doa dan akhtiar namun belum memberikan hasil. Mungkin kita membutuhkan doa orang lain, karena kita tidak tau dari mulut siapa doa itu akan dikabulkan.




Bismillahirrahmannirrahim.
DAHSYATNYA BERHARAP KEPADA YANG TIDAK PERNAH MENGECEWAKAN
Ngikutin suami yang saat itu sering pindah tugas benar-benar membuat capek hati dan pikiran. Dipikiran orang tua saya sukses itu adalah kerja dikantoran. Setiap hari ibu saya selalu marah dan kata2 yang diucapkan selalu sama kuliah jauh2 dari Bengkulu ke medan kuliah di USU (universitas sumatera utara) kok cuma jadi ibu rumah tangga.disitu saya ngerasa stres dan mengadu kepada Allah SWT Yang Maha penggenggam segalanya. Sementara anak saya sudah 2,  ibu saya tidak mau menjaganya kalau saya kerja. Saya menangis sejadi2nya dalam setiap sujud ,didalam pikiran saya sebenarnya apa yang ada dalam pikiran ibu saya ini . Setiap masukin lamaran saya sering mampir untuk dhuha dimesjid jamik (mesjid tertua dibengkulu) saya memohon kepada Allah Yaa Allah Ridhoilah usaha hamba untuk memperoleh pekerjaan yang tidak terlalu lama meninggalkan Anak2 dan tunjukkanlah apa yang harus hamba lakukan untuk anak2 hamba.

Setelah dhuha ga lupa sedekah dikotak amal mesjid. tiba saatnya saya diterima kerja, jam kerja hanya dari jam 9 pagi - 4 sore dan tidak jauh dari tempat kerja saya ada paud yang banyak ibu2 kerja menyekolahkan anaknya disana dan dipaud tsb anak2 diajarkan sholat mengaji berhitung dll. Subhanallah Walhamdulillah walaillahaillallah wallahuakbar. tiada pernah merasa kecewa berharap pada-MU Yaa Allah. Setelah 1 tahun suami yang pada saat itu bekerja di Bank swasta mendapat kenaikan jabatan sebagai pimpinan cabang. Saya pun resign dari kantor Jabatan ok uang juga Alhamdulillah berkecukupan. Tapi rumah tangga kami seperti neraka kami pun mencoba mencari tahu kenapa seperti ini.ternyata tempat kerja suami dibank merupakan sarana bagi para pelaku riba yang membuat hati kami tidak tenang. Sejak saat itu kami bertekad terbebas dari riba .

Dhuha sudah seperti sholat fardhu yang tidak pernah kami tinggalkan dan diiringi dengan sedekah. Akhirnya suami resign dan sekarang kami membuka usaha menjual tas, jam dll.
Alhamdulillah rumah tangga lebih terasa tenang dan damai.Tiada pernah kecewa berharap kepada Allah SWT.






Bismillahirrohmanirrohim...
Cerita saya mungkin orang lain pikir sepele,tapi bagi saya ini adalah "miracle" .
Berawal dari menjelang sholat subuh, saya seorang ibu dengan 2 anak.yang pertama putra berusia 8 tahun, anak yang kedua putri berusia 4 tahun. Kami semua akan berangkat ke mushola untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. tapi putri kedua kami masih tertidur nyenyaknya, rasanya tidak tega kalau harus dibangunkan. Tiba-tiba saya berdoa sama Alloh. "Yaa Alloh saya titip Aira pada-Mu, kirimkan malaikat-malaikat-Mu untuk menjaganya...Aamiin" setelah itu saya merasa nyaman dan tenang meninggalkan dia dirumah dan kami pergi ber 3 ke mushola. Sampai pulang dari mushola Alhamdulillah putri kecil kami masih tertidur. Sejak saat itu saya selalu berdoa yang sama saat mau pergi berjamaah dimushola. Dan dari itu saya banyak belajar, disetiap kesempatan berusaha selalu libatkan Alloh dalam setiap urusan. Bahkan waktu membangunkan anak dipagi hari, libatkan Alloh. Alloh dulu, Alloh lagi , Alloh terus.





Cerita ini ketika saya kelas 3 SMA.
Saya ingin kuliah di salah satu jurusan favorit di IPB. Saya mencoba mendaftar melalui jalur undangan PMDK. Ketika kelas 3 SMA itu saya masih banyak main dan kegiatan ekstrakurikuler. Ketika semester ganjil kelas 3 nilai raport saya anjlok. Saya sampai nangis. Bagaimana bisa keterima PMDK dengan nilai raport begini? Benar saja, saya ga keterima. saya tahu ayah saya kecewa tapi beliau tidak menunjukkannya dan terus menyemangati saya bahwa ini bukan akhir segalanya.
Kemudian saya berusaha bangkit dari kekecewaan dengan belajar lebih giat di semester berikutnya & belajar persiapan UN serta SPMB. Tanpa dipaksa orangtua saya meningkatkan belajar saya.

Tak lupa juga solat tahajud, solat dhuha, serta minta doa ke orang tua terutama ke ibu. Saya lakukan itu karena saya tidak ingin mengecewakan orang tua saya lagi.
Ayah saya menyarankan saya untuk memilih jurusan Akuntansi UI, beliau bilang saya ada potensi dalam Akuntansi. Akhirnya saya putuskan untuk mengikuti saran ayah saya.
Saya ikut bimbingan belajar juga supaya bisa lebih mantap. Beberapa kali try out di bimbel hasilnya nilai saya masih kurang untuk bisa masuk Akuntansi UI. Saya ga patah semangat. Saya terus belajar giat dan berdoa.

Ketika hari SPMB tiba, saya ga lupa meminta restu dan doa dari orang tua. Setelah selesai ujian SPMB, saya coba mencocokkan jawaban dengan yang ada di bimbel. Saya ingat sekali guru bimbel bilang nilai saya masih kurang dari passing grade Akuntansi UI, siap-siap saja untuk kuliah di tempat lain. Jujur saya menangis ketika saya pulang ke rumah. Saya down. Saya sudah berjuang belajar siang malam. Saya sudah berusaha sebaik mungkin. Berjuang sekuat tenaga saya. Saya cuma bisa menangis, mengadu kepada orang tua, dan memasrahkan semuanya kepada Allah swt.
Ketika akhirnya pengumuman SPMB saya sudah deg-degan. Saya ingat saat itu pengumumannya bisa dilihat di website internet mulai pukul 18.00. Saya putuskan solat magrib dulu supaya hati saya lebih tenang melihat hasilnya. Saya masih terus berdoa dan jantung makin deg2an ga karuan.
Mata saya melongo ketika melihat pengumuman bahwa saya DITERIMA di Akuntansi UI.
Saya langsung mengucap Alhamdulillah, menangis tersedu, kemudian sujud syukur. Ibu saya juga menangis bahagia. Ayah saya juga terlihat senang sekali.
       
Allah.. Dialah yang Maha Mengabulkan. Menjawab segala doa hamba-Nya..
Ayah saya sangat bangga sekali saya bisa masuk ke Akuntansi UI, jurusan yang banyak peminatnya. Ternyata itulah persembahan terakhir saya di hidupnya beliau. Setahun saya kuliah, ayah saya dipanggil Allah sampai sekarang kalau saya ingat runtutan hidup itu saya masih suka menangis teringat ayah saya. Karena beliau lah yang membuat saya jadi seperti sekarang ini.

Allahumagfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu. Inilah kisah do'a do'a yang dikabulkan.

Baca juga kisah yang lainnya KISAH DO'A DO'A YANG DIKABULKAN Bag.30




Postingan terkait: